Kamis, 20 Oktober 2011

ANALISIS PROSES PEMBELAJARAN

A. Pendahuluan
Proses pembelajaran dalam konteks formal merupakan suatu usaha sadar dan sengaja serta terorganisir secara baik, guna mencapai tujuan institusional yang diemban oleh lembaga yang menjalankan pendidikan.
Proses pembelajaran adalah seperangkat kegiatan belajar yang dilakukan peserta didik, dimana kegiatan belajar yang dilaksanakan siswa dibawah bimbingan guru. Guru bertugas merumuskan tujuan yang hendak dicapai pada saat mengajar. Untuk mencapai tujuan pembelajaran, guru dituntut untuk merancang sejumlah pengalaman belajar. Sedangkan yang dimaksud dengan pengalaman belajar disini adalah segala sesuatu yang dipeoleh siswa sebagai hasil dari belajar (learning experience). Sehingga dapat dikatakan perubahan tingkah laku pada siswa sebagai hasil adanya pengalaman baru (Cronbach, 1954, dalam Sahartian (2000:30).
Didalam proses pembelajaran terdapat dua kelompok individu yang masing-masing memegang peranan yang berbeda. Guru sebagai individu yang mentranformasikan ilmu pengetahuan kepada peserta didik, sedangkan siswa sebagai subjek belajar yang memiliki segenap potensi yang harus dikembangkan. Agar segenap potensi siswa dapat terkembangkan dengan oprtimal seorang guru dituntut untuk mampu merancang perancanaan pembelajaran dengan memperhatikan landasan psikologis siswa. Proses pembelajaran harus mampu pula menciptakan lingkungan belajar yang mendorong seoptimal mungkin berkembangnya potensi siswa. Keberhasilan kegiatan pembelajaran terletak pada kemampuan guru dalam menciptakan proses belajar siswa sehingga berjalan dengan baik sesuai dengan tujuan pembelajaran.
Menurut Makmun (2004:156), dalam Iskandar (2009:100) dikatakan proses pembelajaran merupakan suatu rangkaian interaksi antara siswa dengan guru dalam rangkaian mencapai tujuannya. Sedangkan menurut Coley (1986) dalam syaiful Sagala (2003:61) dikatakan bahwa: Pembelajaran adalah suatu proses dimana lingkungan seseorang secara sengaja dikelola untuk memungkinkan ia turut serta dalam tingkah laku tertentu dalam kondisi-kondisi khusus atau menghasilakan respon terhadap situasi tertentu. Selanjutnya dijelaskan pembelajaran mempunyai dua karekteristik, yaitu: pertama, dalam proses pembelajaran melibatkan proses berfikir. Kedua dalam proses pembelajaran membangun suasana dialogis dan proses tanya jawab secara terus menerus yang diarahkan untuk memperbaiki dan meningkatkan kemampuan berpikir siswa. Yang pada gilirannya kemampuan berfikir itu dapat membantu siswa untuk memperoleh pengetahuan yang merekan konstruksi sendiri. (Saiful Sagala, 2003:63).
Dari uraian diatas pada bagian selanjutnya dari pendahuluan ini akan kami ulas secara lebih detail lagi dalam analisa terhadap proses pembelajaran berikut ini.

B. Analisa Proses Pembelajaran
Menganalisis proses pembelajaran yang kami lakukan disini adalah menggunakan pembelajaran kontekstual sebagai alat ukur untuk melihat bagaimana sebaiknya proses belajar mengajar itu dilaksanakan. Mengulas tentang bagaimana kiat-kiat guru dalam melakukan proses pembelajaran agar sesuai dengan rumusan tujuan mata pelajaran, sesuai dengan tuntutan masyarakat (peserta didik) sehingga pendidikan tetap eksis dalam menghadapi berbagai problem masyarakat.
Pembelajaran kontekstual didasarkan pada empat pilar pendidikan yang dicanangkan UNESCO: (1) Learning to do, maksudnya pembelajaran diupayakan untuk memberdayakan peserta didik agar mau/bersedia dan mampu memperkaya pengalaman belajarnya. (2) Learning to know, yaitu proses pembelajaran yang didesain dengan cara mengintensifkan interaksi dengan lingkungan baik lingkungan fisik, sosial dan budaya sehingga peserta didik mampu membangun pemahaman dan pengetahuan terhadap dunia disekitarnya. (3) Learning to be, yaitu proses pembelajaran yang diharapkan siswa mampu membangun pengetahuan dan kepercayaan dirinya. (4) Leraning to live togather, pembelajaran yang lebih diarahkan upaya membentuk kepribadian uantuk memahami dan mengenai keanekaragaman (kemajemukan) sehinga melahirkan sikap dan prilaku positif dalam melakukan respon terhadap perbedaan atau keanekaragaman.
Maka dengan memahami pembelajaran kontekstual diharapkan guru mampu menciptakan suatu kondisi pembelajaran yang tidak lagi menggunakan paradigma tradisional atau konvensional tapi lebih mengedepan kan idealisme pendidikan dalam memainkan peranannya sebagai seorang pendidik dalam mengajar.
Sebelum mengulas unsur-unsur yang terkait dalam proses premelajaran akan terlebih dahulu kami sampaikan makna pembelajaran sebagai suatu realitas sistem. 

1. Pembelajaran : Realitas sistem
a. Istilah sistem
Istilah sistem sering didifinisikan suatu bangunan atau organisasi/ lembaga yang terdiri dari beragai sub komponen/elemen, yang saling berinteraksi, berinterdependensi, dimana bila salah satu elemen/komponen rusak atau hilang maka akan mengganggu komponen lain, serta mengganggu kualitas kinerja dari organisasi tersebut. (Saekhan Muchith, 2008: 17).
Pembelajaran dikatakan sebagai suatu sistem karena pembelajaran adalah kegiatan yang bertujuan, yaitu membelajarkan siswa. Proses Pembelajaran itu merupakan rangkaian kegiatan melibatkan berbagai komponen. Pembelajaran sebagai suatu sistem dipengaruhi oleh sesuatu di luar pembelajaran, seperti: Idiologi guru, kompetensi guru, kualitas personal siswa, kelengkapan sarana, kebijakan politik, dan teknologi informasi.
b. Aplikasi sistem dalam pembelajaran
Aplikasi sistem dalam pembelajaran mengandung makna:
1. Adanya pemahaman secara utuh, komprehensif dan terpadu, bahwa proses pembelajaran itu sangat tergantung pada berbagai elemen, jika salah satu elemen terganggu maka akan menggangu keberhasilan proses belajar.
2. Adanya sifat dan sikap keterbukaan yang dimiliki oleh guru dan siswa terhadap kritik dan informasi dari luar. (Saekhan Muchith, 2008: 19).
Sistem bermanfaat untuk merancang atau merencanakan suatu proses pembelajaran. Perencanaan adalah proses dan cara bepikir yang dapat membantu meciptakan hasil yang diharapkan (Ely, 1979) dalam Wina Sanjaya, 2009:51).

2. Konsekuensi guru dalam pembelajaran
Guru adalah komponen yang sangat menentukan di dalam proses pembelajaran. Keberhasilan proses pembelajaran sangat tergantung kepada kepiawaian guru dalam menggunakan metode, teknik dan taktik pembelajaran. Guru yang menganggap mengajar hanya sebatas menyampaikan materi pelajaran akan berbeda dengan guru yang menganggap mengajar adalah suatu proses pemberian bantuan kepada peserta didik. Masing-masing perbedaan tersebut dapat mempengaruhi baik dalam penyusunan strategi atau implementasi pembelajaran.
Menurut James B. Brow seperti yang dikutip oleh Sudirman A.M. (1990), mengemukakan bahwa tugas-tugas dan peranan guru antara lain:
a. Mengusai dan mengembangkan materi pelajaran.
b. Merencanakan dan mempersiapkan pelajaran sehari-hari secara matang sebelum melaksanakan proses pembelajaran.
c. Mengontrol dan mengevaluasi kegiatan siswa.
Menurut Saekhan Muchith, (2008:24-28) untuk mampu melaksanakan tugas mengajar dengan baik, guru harus memiliki kemampuan profesional, yaitu terpenuhinya 10 kompetensi guru, yang meliputi:
1 Mengusai bahan ajar
2 Mampu mengelola program pembelajaran.
3 Kemampuan mengelola kelas
4 Penggunaan media atau sumber pengajaran.
5 Menguasai landasan-landasan pendidikan.
6 Mengelola interaksi belajar mengajar.
7 Menilai prestasi siswa untuk kepentingan pengajaran.
8 Mengenal fungsi serta program pelayanan bimbingan dan penyuluhan.
9 Mengenal dan menyelenggarakan administrasi di sekolah.
10 Memahami prinsip-prinsip dan manafsirkan hasil penelitian pendidikan guna keperluan pengajaran.

3. Mengajar dan belajar dalam pembelajaran kontekstual
Mengajar dan belajar sangat erat hubungannya dalam proses pembelajaran. Karena proses pembelajaran terjadi karena ada interaksi antara kegiatan mengajar dengan kegiatan belajar.
Sebelum kita membahas bagaimana mengajar dan belajar dalam pembelajaran kontektual, terlebih dahulu kita pelajari konsep dasar mengajar dan toeri-teori belajar.
Tahapan perkembangan konsep mengajar diawali dengan makna mengajar sebagai proses menyampaikan materi pelajaran. Sebagai proses penyampaian atau menanamkan ilmu pengetahun, maka mengajar memiliki beberapa karateristik sebagai berikut:
a. Proses pengajaran berorientasi pada guru (teacher centered)
b. Siswa sebagai objek belajar. Siswa dianggap organisme yang pasif.
c. Kegiatan pengajaran terjadi pada tempat dan waktu tertentu misalnya terjadi di dalam kelas dengan penjadwalan yang ketat
d. Tujuan utama pengajaran adalah menguasai materi pelajaran
Konsep mengajar kemudian berkembang menjadi mengajar sebagai proses mengatur lingkungan. Dalam konsep ini yang penting adalah belajarnya siswa. Terdapat beberapa karakteristik dari konsep mengajar sebagai proses mengatur lingkungan itu.
a. Mengajar berpusat kepada siswa (student Centered)
b. Proses pembelajaran berlangsung dimana saja
c. Pembelajaran berorientasi pada proses mengubah tingkah laku siswa
Perubahan paradigma tentang mengajar merupakan tuntutan yang dilatar belakangi oleh tiga alasan: Pertama, siswa adalah organisma yang sedang berkembang. Kedua, kemajuan ilmu pengetahuan mengakibatkan kecendrungan setiap orang tidak mungkin dapat menguasai setiap cabang keilmuan. Ketiga, penemuan-penemuan baru khususnya dalam bidang psikologi, mengakibatkan pemahaman baru terhadap konsep perubahan tingkah-laku manusia.

4. Teori-teori belajar
Berbagai difinisi tentang belajar banyak dikemukakan para ahli sesuai aliran filsafat yang dianutnya, diantaranya:
a. Teori belajar Behavioristik
1. Menurut Thorndike, belajar adalah proses interaksi antara stimulus dan respon. Stimulus yaitu apa saja yang dapat merangsang terjadinya proses belajar seperti pikiran, perasaan atau hal-hal lain yang dapat ditangkap melalui indra. Sedangkan respon yaitu reaksi yang dimunculkan ketika belajar. Pengulangan adalah penting bagi belajar.
2. Teori belajar menurut Watson, secara umum sama dengan teori Thorndike, perbedaannya terletak pada adanya pengakuan terhadap stimulus dan respon yang dapat diamati dan diukur.
3. Teori belajar menurut Edwin Guthrie, mengemukakan hubungan stimulus-respon cenderung hanya bersifat sementara, oleh sebab itu dalam kegiatan belajar peserta didik perlu sesering mungkin diberikan pengulangan.
4. Teori belajar menurut Skinner, teorinya yang terkenal dalam belajar adalah Operant Conditioning: a. Perilaku adalah keteraturan (behavior is lawful), b. Manusia ibarat seperti kotak tertutup yang penuh isi. Di dalam kotak yang penuh isi pasti ada pengolahan input yang akan menghasilakan output, c. Penjelasan dalam proses pembelajaran dilihat dari respon sebelumnya yang dilakukan siswa. Dengan demikian proses belajar perlu memperhatikan perilaku yang dilakukan siswa diwaktu sebelumnya. Inti dalam pembelajaran juga terletak pada reinforcement (penguatan).

b. Teori belajar menurut aliran kognitif.
Teori kognitif lebih menekankan bagaimana proses atau upaya untuk mengoptimalkan kemampuan aspek rasional yang dimiliki individu. Teori kognitif ini besar pengaruhnya dalam proses pembelajaran di Indonesia yang pada umumnya lebih cenderung kognitif oriented ( berorientasi pada intelektual/ kognisi). Didalam buku yang ditulis oleh Saekhan Muchith, (2008:59-68) dijelaskan: Diantara tokoh-tokoh aliran teori kognitivisme adalah J. Piaget, dan Jerome S. Brunner.
1. Jean Piaget yang mengatakan bahwa proses belajar sebenarnya terdiri dari tiga tahapan, yaitu 1) asimilasi; 2) akomodasi; 3) ekuilibrasi (penyeimbangan).
2. Teori belajar menurut Bruner yang menjelaskan bahwa perkembangan kognitif seseorang terjadi melalui tiga tahap yang ditentukan oleh caranya melihat lingkungan, yaitu: a. Tahap enaktif, b. Tahap ikonik, c.Tahap simbolik.

c. Teori belajar humanistik
Teori humanistik, menjelaskan bahwa proses belajar harus dimulai dan ditujukan untuk kepentingan memanusiakan manusia (proses humanisasi).Oleh sebab itu teori belajar humanistik sifatnya lebih menekankan bagaimana memahami persoalan manusia dari berbagai dimensi yang dimiliki, baik dimensi kognitif, afektif dan psikomotorik.
Teori ini lebih tertarik pada ide belajar dalam bentuk yang paling ideal daripada belajar secara apa adanya. Wajar jika teori ini sangat bersifat eklektik. Teori apapun dapat dimanfaatkan asal tujuan untuk memanusiakan manusia (mencapai aktualisasi diri dan semuanya itu) dapat tercapai. Di dalam Yatim Riyanto, ( 2009:17-19) terdapat beberapa pendapat tentang teori humanistik antara lain: dalam hal ini Bloom dan Rathwohl menunjukkan apa yang mungkin dikuasai (dipelajari) oleh siswa yang tercakup dalam tiga kawasan, yaitu: Kognitif, Psikomotor, dan afektif.
• Aplikasi teori belajar humanistik dalam kegiatan pembelajaran
Teori humanistik ini lebih dekat kepada bidang filsafat, teori kepribadian dan psikoterapi daripada bidang pendidikan, sehingga sukar diterjemahkan ke dalam langkah-langkah yang lebih kongkrit dan praktis. Namun karena sifatnya yang ideal, yaitu memanusiakan manusia, maka teori humanistik mampu memberikan arah terhadap semua komponen pembelajaran untuk mendukung tercapainya tujuan tersebut.
Dengan demikian, semua komponen pendidikan termasuk tujuan pendidikan diarahkan pada terbentuknya manusia yang ideal, mausia yang dicita-citakan, yaitu manusia yang mampu mencapai aktualisasi diri. Untuk itu perlu perlu diperhatikan bagaimana perkembangan peserta didik dalam mengaktualisasikan dirinya, pemahaman terhadap dirinya dan realisasi diri.Pengalaman emosional dan karakteristik khusus perlu diperhatikan guru dalam merencanakan pembelajaran.
Dalam prakteknya teori humanistik ini cenderung mengarahkan siswa untuk berpikir induktif, mementingkan pengalaman, serta membutuhkan keterlibatan siswa secara aktif dalam proses belajar. 

5. Tujuan belajar dan pembelajaran
Tujuan belajar penting bagi guru dan siswa. Dalam desain instruksional guru merumuskan tujuan instruksional khusus atau sasaran belajar siswa, yang disesuaikan dengan prilaku yang hendaknya dapat dilakukan siswa. Tujuan harus memiliki kesejajaran pada sasaran belajar (rumusan guru, dan diinformasikan kepada siswa). Tujuan instruksional khusus juga disebut sebagai sasaran belajar siswa, sebab rumusan tujuan tersebut diorientasikan bagi kepentingan siswa dengan memperhatikan pengetahuan awal dan kebutuhan belajar siswa.
Bagi guru, tujuan instruksional dan tujuan pembelajaran merupakan pedoman tindak mengajat dengan acuan berbeda. Tujuan instruksional (umum dan khusus) dijbarkan dari kurikulum. Dari segi siswa, sasaran belajar merupakan panduan siswa. Sasaran belajar diketahui oleh siswa sebagai akibat adanya informasi guru. Panduan belajar harus diketahui siswa, sebab mengisyaratkan kreteria keberhasilan belajar. Keberhasilan belajar merupakan prasyarat bagi program belajar selanjutnya.
Berdasarkan taksonomi Bloom tujuan pembelajaran terdiri dari tiga ranah, yaitu: ( dan Kartwolte) coba bergerak mengarah pada analisis kompetensi
Ranah Level Indicator kompetensi
Kognitif Mengetahui Menyebutkan, menuliskan, menyatakan, mengurutkan, mengindentifikasi, mendefenisikan, mencocokkan, menamai, melebeli, menggambarkan.
Memahami Menerjemahkan, mengubah, menganalisasi, menguraikan dengan kata-kata sendiri, meringkas, membedakan, mempertahankan, menyimpulkan, berpandapat dan menjelaskan.
Menerapkan ide Mengoperasikan, menghasilkan, mengubah, mengatasi, menggunakan, menunjukkan, mempersiapkan, dan menghitungkan.
Analisis Menguraikan satuan menjadi unit-unit, membagi satuan menjadi sub-sub atau bagian-bagian, membedakan antara dua yang sama, memilih dan mengenal perbedaan dalam satu kesatuan.
Sintesis Merancang, merumuskan, menganalisasikan, mengompilasikan, mengompisisikan, membuat hipotesis, dan merencanakan.
Evaluasi Mengkritisi, menginterpretasi, dan memberi penilaian.
Afektif Penerimaan Mempercayai sesuatu atau orang, memilih sesuatu atau orang untuk diikuti, dan mengaloksikan.
Tanggapan Mengomfirmasi, memberi jawaban, membaca pesan-pesan, membantu, melaksanakan, melaporkan, dan menampilkan.
Penanaman nilai Menginginkan, mengundang orang untuk terlibat, mengusulkan dan melakukan.
Pengorganisasian nilai Menverifikasikan nilai, memilih nilai, mensentesiskan nilai-nilai, menghubungkan nilai-nilai, mempengaruhi kehidupan dengan nilai-nilai.
Karakteristik kehidupan Menggunakan nilai-nilai sebagai pandangan hidup, mempertahankan nilai-nilai yang sudah diyakini.
Psikomotor Memperhatikan Mengamati proses, memberi perhatian pada tahap-tahap perbuatan, memberi perhatian sebuah artikulasi.
Peniruan Melatih mengubah sebuah bentuk, membongkar sebuah struktur, membangun sebuah struktur, menggunakan sebuah konstruk atau model.
Pembiasaan Membiasakan sebuah model atau perilaku yang sudah terbentuk, menngontrol kebiasaan agar tetap konsisten.
Penyesuaian Menyesuaikan model, membenarkan sebuah model untuk dikembangkan, dan menyekutukan model pada kenyataan.

6. Evaluasi /penilaian
Kegiatan penilaian/evaluasi adalah suatu tindakan atau kegiatan untuk melihat sejauh mana tujuan instruksional telah dapat dicapai oleh atau dikuasai oleh siswa dalam bentuk hasil-hasil yang diperlihatkannya setelah mereka menempuh pengalaman belajarnya (proses belajar mengajar). Dengan mengetahui tercapai tidaknya tujuan-tujuan instruksional, dapat diambil tindakan perbaikan pengajaran dan perbaikan siswa yang bersangkutan.

a. Sistem penilaian
Cara yang digunakan dalam menentukan derajat keberhasilan hasil penilaian sehingga kedudukan siswa dapat diketahui, apakah telah dapat menguasai tujuan instruksional atau belum. Sistem penilaian hasil belajar pada umumnya dapat dibedakan ke dalam dua cara atau sistem, yakni penilaian acuan norma (PAN) dan penialain acuan patokan (PAP). Penilaian acuan normal adalah penilaian yang diacukan kepada rata-rata kelompoknya. Dengan demikian dapat diketahui posisi kemampuan siswa di dalam kelompoknya. Untuk itu norma atau kriteria yang digunakan dalam menentukan derajat prestasi seorang siswa, dibandingkan dengan nilai rata-rata kelasnya. Atas dasar itu akan diperoleh tiga kategori presatasi siswa, yakni diatas rata-rata kelas, sekitar rata-rata kelas, dan di bawah rata-rata kelas.
Penilaian acuan patokan (PAP) adalah penilaian yang diacukan kepada tujuan instruksional yang harus dikuasai oleh siswa. Dengan demikian, derajat keberhasilan siswa dibandingkan dengan tujuan yang seharusnya dicapai oleh siswa. Biasanya keberhasilan siswa ditentukan kriterianya, yakni berkisar antara 75-80 persen. Artinya siswa dikatakan berhasil apabila menguasai atau dapat mencapai sekitar 75-80 persen dari tujuan atau nilai yang seharusnya dicapai.

b. Prinsip dan prosedur penilaian
Mengingat pentingnya penilaian dalam menentukan kualitas pendidikan, maka upaya merencanakan dan melaksanakan penilaian hendaknya memperhatikan beberapa prinsip dan prosedur penilaian, antara lain yaitu;
- Sebagai patokan dalam merancang penilaian hasil belajar adalah kurikulum.
- Penilaian senantiasa dilaksanakan pada setiap saat proses belajar – mengajar sehingga pelaksanaannya berkesinambungan.
- Penilaian harus menggunakan berbagai alat penilaian dan sifatnya komprehensif.
- Penilaian hasil belajar hendaknya diikuti tindak lanjutnya.
Ada beberapa langkah yang dapat dijadikan pegangan dalam melaksanakan proses penilaian hasil belajar, yakni:
- Merumuskan atau mempertegas tujuan-tujuan pengajaran.
- Mengkaji kembali materi pengajaran berdasarkan kurikulum dan silabus mata pelajaran.
- Penyusunan alat – alat penilaian, baik tes maupun nontes, yang cocok digunakan dalam menilai jenis – jenis tingkah laku yang tergambar dalam tujuan pengajaran.
- Menggunakan hasil – hasil penilaian sesuai dengan tujuan penilaian tersebut, yakni untuk kepentingan pendeskripsian kemampuan siswa, kepentingan perbaikan pengajaran, kepentingan bimbingan belajar, maupun kepentingan laporan pertanggungjawaban pendidikan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar